ANALISIS KRITIK REDAKSI;PENGAKUAN PETRUS,Dari Kaisarea menjadi Batu Karang

                   Analisis Kritik Redaksi;
             Pengakuan Petrus dari Kaisarea menjadi Batu Karang 

Pendahuluan
          Narasi pengakuan Petrus dalam Injil Sinoptik; Matius 16:13-20, Markus 8:27-30, Lukas 9:18-21) merupakan salah satu bagian sentral dalam narasi Injil.1 Pengakuan ini merupakan catatan atas deklarasi (iman) sang Batu Karang Petrus tentang Allah yang adalah Mesias dan Anak Allah. Kisah ini dikisahkan dalam Injil Sinoptik namun dengan berbagai varian narasi. Dari varian inilah saya tertarik untuk mencoba menganalisisnya dengan metode analisis Kritik Redaksi. Kritik redaksi adalah suatu metode dalam studi Alkitab yang berfokus pada analisis tentang bagaimana teks-teks Injil disusun, diedit, dan dimodifikasi (menambah, mengurangi atau mengubah) oleh para pengarang atau editor mereka sesuai maksud Teologisnya.
Latar Belakang ; Narasi ketiga Injil
         Dalam Injil Markus (8:27-30), pertanyaan ini muncul ketika Yesus dan murid-murid-Nya berada di daerah Kaisarea Filipi, sebuah wilayah yang secara geografis dan kultural cukup jauh dari Yerusalem. Di sini, Yesus bertanya langsung kepada murid-murid-Nya mengenai persepsi orang banyak tentang siapa diri-Nya. Para murid menjawab bahwa banyak orang menganggap Yesus sebagai Yohanes Pembaptis, Elia, atau salah satu nabi. Namun, Yesus kemudian menanyakan lebih lanjut, “Tapi, apa katamu, siapa Aku ini?” Petrus, sebagai wakil dari para murid, dengan tegas menjawab, “Engkau adalah Mesias.” Pengakuan ini, meskipun sederhana, mengandung pengakuan teologis yang mendalam tentang identitas Yesus sebagai Yang Diurapi atau Mesias yang dijanjikan dalam Kitab Suci.
          Dalam Injil Matius (16:13-20), narasi ini mirip dengan Markus, namun dengan penekanan lebih besar pada penguatan pengakuan Petrus. Setelah Petrus mengungkapkan pengakuannya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, Yesus merespons dengan memberikan berkat khusus kepada Petrus. Yesus menyebut Petrus sebagai “batu karang” dan menyatakan bahwa di atas batu karang ini, Ia akan membangun gereja-Nya, dengan janjinya bahwa “pintu-pintu dunia orang mati tidak akan menguasainya.” Di sini, peran Petrus ditegaskan lebih jelas, dengan pengakuannya yang dianggap sebagai fondasi bagi berdirinya gereja Kristus. Dan bagian ini juga yang membedakannya dari Markus dan Lukas.
            Sementara itu, dalam Injil Lukas (9:18-21), pengakuan Petrus disampaikan dalam konteks yang lebih intim dan pribadi. Lukas menekankan bahwa pengakuan Petrus datang setelah Yesus berdoa sendirian, menunjukkan suasana doa dan refleksi yang mendalam. Yesus ingin memulai sesuatu yang penting, yaitu pengakuan Petrus dengan sebuah doa. Narasi ini juga banyak dipengaruhi oleh Markus. Jawaban Petrus, meskipun mirip dengan yang terdapat dalam Markus dan Matius, tidak disertai dengan peneguhan langsung dari Yesus mengenai kedudukan Petrus dalam gereja, seperti yang ditemukan dalam Injil Matius. Lukas lebih fokus pada pengajaran Yesus tentang penderitaan yang akan datang, yang menunjukkan bahwa pengakuan Petrus ini juga menjadi titik awal bagi pengajaran lebih lanjut tentang misi Mesias yang harus menderita.

Penambahan Editorial 
itorial dan Makna Teologis
         Tahap selanjutnya kita akan melihat makna teologis yang mewarnai perbedaan di atas. Kita melihat bahwa Matius banyak mengedit Injilnya dan banyak perbedaan antara Markus dan Lukas. Beberapa ahli berpendapat bahwa mungkin Lukas sepenuhnya mengambil sumber dari Markus dan Matius justru dari sumber khusus dan bukan Quelle. Lukas hanya menampilkan Yesus yang sedang (sudah)berdoa ingin menyampaikan bahwa pengakuan Petrus itu sangat penting. Sebagai mana dikatakan oleh Eko Riyadi, (Eko Riyadi, “Lukas; Sungguh, Orang ini adalah Orang benar”, 2011)bahwa pengakuan Petrus itu ada pengakuan kristologis yang klimaks dari pelayanan publik Yesus di Galilea. Dan ketika Yesus sedang berdoa Ia bertanya kepada para murid-Nya tentang diri-Nya. Dalam pemahaman Lukas pengakuan Petrus ini sangat penting, maka untuk itulah Yesus mendahuluinya dengan doa. Doa bagi Yesus selalu menjadi awal untuk sebuah momen yang paling penting misalnya ketika Yesus hendak memilih para murid Yesus terlebih dahulu berdoa semalam-malam. Sementara dalam Injil Lukas dan Markus, justru menampilkan secara khusus Kaisarea Filipi. Beberapa penafsir mengatakan bahwa Kaisarea Filipi juga menjadi tempat yang sangat penting karena, daerah ini sebenarnya diberikan kepada untuk Herodes Filipus oleh Yulius Kaisar. Akan tetapi justru disitulah Yesus diakui sebagai Mesias Oleh Markus menanggap bahwa ini semacam simbolisme tertentu bahwa Yesus adalah Raja sesungguhnya. Inilah yang ingin ditujukan Markus kepada jemaatnya yang dalam penganiayaan, bahwa Yesus adalah sungguh Raja yang lebih berkuasa. Bagian selanjutnya menampilkan bagaimana Yesus bertanya kepada para murid. Lukas dan Markus sama memiliki kesamaan narasi tentang pertanyaan Yesus “siapakah Aku ini?” (bdk Markus 8:27, Lukas 9:18). Sebaliknya Matius menampilkan pertanyaan Yesus dengan variasi yang berbeda “siapakah Anak Manusia itu”? (Bdk Mat 16:13). Penggunaan istilah “Anak Manusia” oleh Yesus sangat berarti dalam konteks teologi Matius. Istilah ini memiliki akar kuat dalam Kitab Daniel 7:13-14, di mana “Anak Manusia” adalah figur eskatologis yang diberi kuasa oleh Allah untuk memerintah dunia. Matius, yang banyak menggunakan penggenapan nubuat dalam narasi-Nya, memilih istilah ini untuk menekankan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, yang datang sebagai penggenapan nubuat Perjanjian Lama. Sebagai penginjil yang menulis untuk pembaca Yahudi, Matius ingin menonjolkan Yesus sebagai Mesias yang lebih daripada sekadar pemimpin politik atau guru moral, melainkan sebagai figur yang diurapi dengan otoritas ilahi untuk membawa keselamatan bagi umat manusia. Dengan menggunakan istilah “Anak Manusia”, Matius mengajak pembaca untuk melihat Yesus sebagai figur yang lebih besar daripada sekadar seorang guru atau nabi. Penggunaan istilah ini memperkuat identitas mesianik Yesus dan menunjukkan bahwa Yesus adalah sosok yang memiliki kuasa ilahi yang akan menggenapi rencana keselamatan Allah untuk dunia. Istilah ini juga muncul dalam Lukas 5:24, 6:45 yang ditampilkan Lukas Yesus sebagai pengampun dosa atau orang yang secara baru menata secara baru hari sabat Yahudi.
      Hal menarik lainnya adalah bagaimana Matius menambahkan nama nabi Yeremia dalam keterangan para murid kepada Yesus (bdk Matius 146:16), sebaliknya dalam Markus dan Lukas tidak menuliskan. Mungkin hal ini sederhana, tetapi tentu ada maksud teologisnya. Sebagian dikatakan oleh Marlen (2018) bahwa salah satu penekanan utama dalam Injil Matius adalah penggenapan nubuat-nubuat Perjanjian Lama dalam kehidupan Yesus. Matius sering kali menambahkan referensi ke nubuat yang ada dalam kitab-kitab nabi besar, termasuk Yeremia, untuk menegaskan bahwa Yesus adalah penggenapan dari nubuat tersebut. Dengan menyebutkan “Yeremia,” Matius bisa jadi berusaha menghubungkan Yesus dengan nabi besar tersebut, yang dianggap penting dalam tradisi Yahudi. Yeremia, sebagai nabi yang penuh dengan penderitaan dan pesan keras, bisa menjadi figur yang relevan untuk menggambarkan perjalanan hidup dan misi Yesus, yang juga mengalami penderitaan dan kematian, dan ini akan sangat berarti bagi orang Yahudi jemaat Matius dalam perkembangan keyakinan mereka bahwa Yesu sungguh yang telah dinubuatkan. Bagian selanjutnya adalah bagaimana Lukas menampilkan dengan tegas bahwa Yesus adalah Mesias dari Allah (Luk 9:20). Ungkapkan dari Allah adalah khas Lukas. Tambahan ini berfungsi sebagai penegasan relasi khusus antara Yesus sebagai Mesias dengan Allah. Ungkapan Petrus Mesias dari Allah kemungkinan mau menunjukkan bahwa Petrus menilai Yesus berdasarkan apa yang ia sendiri lakukan dalam nama Yesus (bdk Luk 9:6). Jawaban pasti berfokus pada kuasa Yesus dan mungkin tidak berbeda jauh dengan pemikiran bangsa Yahudi dalam mengartikan Mesias. Akan tetapi yang paling dekat bahwa Lukas menggunakan istilah Mesias dari Allah demi pembaca Injilnya. Lukas ingin menjadikan bahwa Yesus itu Mesias dalam arti yang berhubungan erat dengan Allah untuk jemaatnya.
          Narasi setelah Petrus memberi jawaban kepada Yesus oleh Lukas dan Markus menjadi narasi terakhir sebelum larangan untuk memberitakan hal-hal yang mereka saksikan sebelumnya (bdk Markus 8:29-30). Namun berbeda dengan Matius ia menambahkan narasi lain yang menjadi kekhasannya, yaitu narasi tentang apresiasi kepada Petrus dan “hadiah” berupa kepercayaan dan penetapan yang Yesus berikan kepada Petrus untuk menjadi batu karang untuk Jemaat-Nya (bdk Mat 16:17-20). Padahal narasi sebelumnya Matius seperti banyak memakai konsep Markus akan tetapi narasi terakhir tersebut mungkin diambil dari sumber lain oleh Matius. Mari kita cermati maksud dari Matius tersebut. Penulis Injil Matius, yang lebih dekat dengan tradisi Yahudi, berusaha untuk menekankan hubungan antara Yesus dan tradisi Israel, serta kesinambungan ajaran Yesus dengan kehidupan gereja setelah Yesus. Dengan memberikan peran besar kepada Petrus, Matius ingin menunjukkan bahwa Yesus memilih seorang pemimpin yang bukan hanya memahami wahyu ilahi (seperti Petrus yang mengakui Yesus sebagai Mesias), tetapi juga yang akan menjadi pengarah bagi umat-Nya setelah kematian dan kebangkitan Yesus. Di sisi lain, Markus dan Lukas, meskipun setuju bahwa Petrus adalah pengaku iman yang penting, tidak memberikan penekanan yang sama pada posisi Petrus dalam gereja. Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan konteks gereja yang mereka tuju—di mana gereja-gereja yang dimaksud dalam Markus dan Lukas mungkin belum membutuhkan penegasan khusus tentang otoritas kepemimpinan Petrus. Matius menulis pada periode yang mungkin sudah ada tantangan terhadap kepemimpinan apostolik atau bahkan perselisihan dalam gereja mengenai otoritas dan struktur pemimpin gereja. Penambahan peran besar Petrus ini dapat dipandang sebagai respons terhadap kebutuhan untuk menguatkan posisi gereja dalam menghadapi tantangan tersebut. Ini bisa menjadi bagian dari penyesuaian teologis yang dilakukan Matius terhadap komunitas Kristen yang sudah mapan, di mana otoritas Petrus sebagai pemimpin gereja dipandang penting untuk menjaga kelangsungan ajaran Kristus.

Kesimpulan
          Adanya berbagai varian narasi dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas mencerminkan penekanan teologis yang berbeda, yang disesuaikan dengan jemaat dan tujuan masing-masing penulis. Matius, yang menulis untuk pembaca Yahudi, menekankan Yesus sebagai penggenapan nubuat Mesianik dalam Perjanjian Lama, menggunakan istilah “Anak Manusia” untuk menunjukkan kuasa ilahi Yesus, serta memberikan peran penting kepada Petrus sebagai pemimpin gereja setelah Yesus. Markus dan Lukas, meskipun menyajikan pengakuan Petrus sebagai Mesias, lebih menekankan aspek pengajaran Yesus dan peran-Nya sebagai pengampun dosa tanpa memberikan penekanan yang sama pada otoritas kepemimpinan Petrus. Perbedaan ini menunjukkan bagaimana masing-masing Injil mengartikulasikan identitas Yesus dan misi-Nya sesuai dengan kebutuhan dan konteks gereja yang mereka tuju, di mana Matius cenderung lebih menekankan kesinambungan ajaran Yesus dengan tradisi Israel dan otoritas gereja yang dipimpin oleh Petrus.

Daftar Pustaka
1. Aska Aprilano Pattinaja” Dari “Epistata” Kepada “Kurios”: Studi Naratif Teologis Pengakuan Petrus Berdasarkan Lukas 5: 1-11 (Jurnal Amanat Agung 19 (2), 299-334, 2023
2. Frank J Matera “The Incomprehension of the Disciples and Peter’s Confession (Mark 6, 14-8, 30) (Biblica 70 (2), 153-172, 1998)
3. Leks, Stefan “ Tafsir Injil Lukas” (PT Kanisius, Yogyakarta, 2003)242-246
4. Leks, Stefan “Tafsir Injil Markus” ( Kanisius, Yogyakarta, 2003) 264-282
5. Leks, Stefan “ Yesus Kristus menurut keempat Injil, Jilid 3” (Penertib Kanisius, Yogyakarta, 1992)
6. Marlen Tineke Alakaman” Discoveri-Inquary Metode Yang Dipakai Yesus Dalam Kisah Pengakuan Petrus (Matius 16: 13-20)”( Tangkoleh Putai 15 (1), 143-167, 2018)
7. Tucker S Ferda” The Seventy Faces of Peter’s Confession: Matt. 16: 16-17 in the History of Interpretation” (Biblical interpretation 20, 421-457, 2012)
8. Riyadi, Eko “ Lukas; Sungguh Orang ini adalah Orang Benar” ( PT Kanisius, Yogyakarta, 2011)142-145
9. Riyadi, Eko “Markus; Engkau adalah Mesias” (PT Kanisius, Yogyakarta, 2011)129-133
10. Riyadi, Eko “ Matius, Sungguh Dia adalah Anak Allah” (PT Kanisius, Yogyakarta, 2011) 149-152
11. Wilson Rantung “Interpretasi Makna Pengakuan Petrus Matius 16: 13-20” (: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 1 (1), 35-44, 2020
.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sosok “Si Anu” dalam Matius 26:18

MENGENAL SOSOK “Si Anu” dalam MATIUS 26:18: PERAN TERSEMBUNYI DALAM SEJARAH KESELAMATAN