Postingan

Sosok “Si Anu” dalam Matius 26:18

        Dalam kisah persiapan perjamuan Paskah Tuhan, terdapat tokoh yang memiliki "peran penting" yang namanya tidak disebutkan secara eksplisit. Tokoh tersebut ialah 'si Anu' yang disebutkan dalam Matius 26:18. Istilah ini bukanlah nama asli, melainkan bentuk penyebutan seseorang yang tidak diketahui atau sengaja dirahasiakan identitasnya. Dalam budaya modern (non formal) kata 'anu' sering digunakan sebagai pengganti nama orang yang tidak ingin disebutkan. Dalam konteks ini, pemakaiannya oleh Lembaga Alkitab Indonesia memberi kesan ‘misterius’. Tokoh ini disebut dalam konteks yang sangat penting, yaitu menjelang Perjamuan Terakhir. Tulisan in akan membahas akan siapakah 'si Anu' ini menurut Injil Matius (Sinoptik: Markus, dan Lukas), mengapa ia tidak disebutkan namanya, serta apa makna teologis dari keberadaan dan peranannya dalam rencana keselamatan Allah.           Dalam Matius 26:18, Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk pergi ke kota da...

St Agustinus Hippo

 St. Augustinus Dari Hippo Augustinus dilahirkan (mungkin lebih bagus memakai kata lahir pada)pada tahun 354 di Tagaste, sebuah kota kecil dekat Kartago yang letaknya di dekat kota Tunis. Ayahnya seorang penganut agama Romawi Kuno, ibunya (Monika) seorang wanita Kristen yang saleh. Ibu yang penuh semangat dan dihormati sebagai orang kudus itu mempunyai pengaruh besar pada anaknya dan mendidiknya dalam iman Kristiani. Siapa yang (yang gk usah ) sangka masa muda Augustinus diisi dengan berbagai macam kesenangan duniawi yang disebut sebagai ”kebejatan nafsu daging” atau ”kegilaan nafsu biarahi yang liar”. Augustinus mempunyai pengalaman sewaktu menjadi mahasiswa, ia hidup bersama di luar nikah dengan seorang wanita. Ia memperoleh seorang putera bernama adeodatus. (Ini nama org, maka harus pke hruf kapital huruf pertama) Augustinus telah menerima garam, sebagai tanda bahwa ia telah diterima dalam katekumenat. Ia tetap terpesona oleh tokoh Yesus Kristus. Augustinus mengatakan bahwa...

MENGENAL SOSOK “Si Anu” dalam MATIUS 26:18: PERAN TERSEMBUNYI DALAM SEJARAH KESELAMATAN

Sosok “Si Anu” dalam Matius 26:18: Peran Tersembunyi dalam Rencana Keselamatan Pendahuluan         Dalam narasi Injil Matius, khuususnya kisah persiapan perjamuan Paskah Tuhan, terdapat tokoh yang memiliki peran penting meskipun tidk disebutkan namanya. Tokoh tersebut ialah 'si Anu' yang disebutkan dalam Matius 26:18. Istilah ini bukanlah nama asli, melainkan bentuk penyebutan seseorang yang tidak diketahui atau sengaja dirahasiakan identitasnya. Dalam budaya modern, kata 'anu' sering digunakan sebagai pengganti nama yang tidak ingin disebutkan, dan dalam konteks ini, pemakaiannya oleh Lembaga Alkitab Indonesia memberi kesan ‘misterius’. Tokoh ini disebut dalam konteks yang sangat penting, yaitu menjelang Perjamuan Terakhir. Tulisan in akan membahas secara mendalam siapakah 'si Anu' ini menurut Injil Matius (Sinoptik Markus, dan Lukas), mengapa ia tidak disebutkan namanya, serta apa makna teologis dari keberadaan dan peranannya dalam rencana keselamatan Allah. ...

ANALISIS KRITIK REDAKSI;PENGAKUAN PETRUS,Dari Kaisarea menjadi Batu Karang

                   Analisis Kritik Redaksi;              Pengakuan Petrus dari Kaisarea menjadi Batu Karang  Pendahuluan           Narasi pengakuan Petrus dalam Injil Sinoptik; Matius 16:13-20, Markus 8:27-30, Lukas 9:18-21) merupakan salah satu bagian sentral dalam narasi Injil.1 Pengakuan ini merupakan catatan atas deklarasi (iman) sang Batu Karang Petrus tentang Allah yang adalah Mesias dan Anak Allah. Kisah ini dikisahkan dalam Injil Sinoptik namun dengan berbagai varian narasi. Dari varian inilah saya tertarik untuk mencoba menganalisisnya dengan metode analisis Kritik Redaksi. Kritik redaksi adalah suatu metode dalam studi Alkitab yang berfokus pada analisis tentang bagaimana teks-teks Injil disusun, diedit, dan dimodifikasi (menambah, mengurangi atau mengubah) oleh para pengarang atau editor mereka sesuai maksud Teologisnya. Latar Belakang ; Narasi ketiga Injil ...

SIAPAKAH KAUM FARISI

SIAPAKAH KAUM FARISI?             Berbicara mengenai orang Farisi, yang terlintas dalam pikiran kita pasti tidak jauh dari kisah-kisah kontroversialnya dengan Yesus. Dalam Injil (keempat Injil) banyak dijumpai perselisihan Yesus dan orang Farisi. Orang Farisi dengan aturannya yang ketat (bdk Mrk 7:1-8) dan Yesus yang selalu berusaha menjunjung tinggi kemanusiaan dan mengabaikan aturan mereka sering kali menjadi problematik tersendiri. Orang Farisi juga sering mencobai Yesus (Mrk 10:2-12). Dan Yesus sering kali “membalasnya” dengan mengecam mereka, menanggapnya sebagai orang munafik, suka mencari muka dan sebagainya. Bisa dibayangkan bagaimana jeleknya hubungan Yesus dan orang Farisi pada saat itu. Di mana- mana ada percekcokan. Dan dalam Injil, tidak hanya dijumpai satu atau dua kali, melainkan beberapa kali. Akan tetapi, orang Farisi juga tidak diam begitu saja. Mereka tetap berani menentang Yesus. Keberanian mereka untuk menentang Yesus yang notabene dika...

Pembelaan terhadap Pontius Pilatus: Menyikapi Dilema Moral Seorang Pejabat Romawi dalam Perspektif Novel “Pontius Pilatus”

Pembelaan terhadap Pontius Pilatus: Menyikapi Dilema Moral Seorang Pejabat Romawi dalam Perspektif Novel “Pontius Pilatus” Pontius Pilatus, nama yang tak bisa dilepaskan dari kisah penyaliban Yesus Kristus, sering kali dipandang sebagai simbol ketidakadilan dan kelemahan seorang pejabat yang menyerah pada tekanan massa. Dalam banyak interpretasi sejarah dan teologi, Pilatus digambarkan sebagai sosok yang lebih memilih untuk melindungi dirinya sendiri daripada mengambil keputusan yang benar. Namun, jika kita melihat lebih jauh, terutama dalam pandangan yang digambarkan oleh Paul L Maier dalam novel Pontius Pilatus (diterbitkan oleh Penerbit Dioma, yang diterjemahkan oleh FX. Bambang Kussriyanto, cet 1 2009) dapat menemukan sebuah perspektif berbeda mengenai posisi Pilatus. Melalui karakter ini, saya menangkap betapa beratnya posisi Pilatus yang terjebak dalam konflik antara kehendak pribadi, kekuasaan politik, dan tekanan dari berbagai pihak.          Sebagai se...

Refleksi Teologis Berdasarkan Lukas 18:9-14

Refleksi Teologis berdasarkan Lukas 18:9-14 Lukas 18:9-14 adalah perikop yng terkisah perumpamaan Yesus tentang seorang Farisi dan seorang pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah. Perumpamaan ini disampaikan olh Yesus utuk mengajarkan pentingnya kerendahan hati dalam di hadapan Tuhan, serta menyadarkan pendengarnya akan sikap hati yang benar dalam berdoa. Dlam konteks ini, Yesus berbicara kepada orang-orang yang percaya bahwa mereka lebih benar daripada orang lain, khususnya orang-orang yang menganggap diri mereka benar berdasarkan karya-karya dan kepatuhan mereka terhadap hukum agama. Perikop ini juga menunjukkan kontras antara dua tokoh yang hadir di tempat ibadah, yaitu seorang Farisi yang sangat (merasa) religius dan seorang pemungut cukai yang sering dianggap berdosa oleh masyarakat. Meski demikian, Yesus mengajarkan bahwa yang dianggap lebih benar di hadapan Allah adalah pemungut cukai yang merendahkan diri, bukan Farisi yang merasa diri benar. Perumpamaanbhendaknya ini menggu...