Sosok “Si Anu” dalam Matius 26:18
Dalam kisah persiapan perjamuan Paskah Tuhan, terdapat tokoh yang memiliki "peran penting" yang namanya tidak disebutkan secara eksplisit. Tokoh tersebut ialah 'si Anu' yang disebutkan dalam Matius 26:18. Istilah ini bukanlah nama asli, melainkan bentuk penyebutan seseorang yang tidak diketahui atau sengaja dirahasiakan identitasnya. Dalam budaya modern (non formal) kata 'anu' sering digunakan sebagai pengganti nama orang yang tidak ingin disebutkan. Dalam konteks ini, pemakaiannya oleh Lembaga Alkitab Indonesia memberi kesan ‘misterius’. Tokoh ini disebut dalam konteks yang sangat penting, yaitu menjelang Perjamuan Terakhir. Tulisan in akan membahas akan siapakah 'si Anu' ini menurut Injil Matius (Sinoptik: Markus, dan Lukas), mengapa ia tidak disebutkan namanya, serta apa makna teologis dari keberadaan dan peranannya dalam rencana keselamatan Allah.
Dalam Matius 26:18, Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk pergi ke kota dan mencari seseorang yang disebut 'si Anu'. Istilah ini dalam teks Yunani adalah ton deina, yang berarti seseorang tertentu namun tanpa nama eksplisit. Selain Matius, Injil Markus 14:13–15 dan Lukas 22:10–12 juga memberi gambaran yang lebih detail tentang orang ini: seorang pria yang membawa kendi air, yang kemudian akan menuntun para murid ke rumah tempat mereka akan merayakan Paskah. Walupun teryta dalam konteks budaya Yahudi abad pertama, membawa kendi air biasanya adalah tugas perempuan. Akan tetapi sesuai instruksi Yesus, bahwa orang tersebut adalah laki laki. Maka ini sebenarnya membantu para murid untuk mudah mengenalnya. Hal menarik lainnya dalam Injil Sinoptik ini, karena adanya kesesuaian narasi. Walaupun Lukas dan Markus memberi detail visual mengenai orang itu. Nah, menarik karena kesesuian ketiga Injil ini menunjukkan bahwa orang tersebut memang telah dipersiapkan sebelumnya, baik melalui komunikasi langsung dengan Yesus, atau sebagai bagian dari pengetahuan ilahi yang bekerja secara tersembunyi. Ini memberi kemudahan bagi murid-muridnya dalam mengikuti petunjuk Yesus. Jika kita melebar jauh, kesesuian dalam Kitab Suci lainnya juga banyak ditemukan. Misalnya nubut Yesaya tentang perempuan yang akan melahirkan akhirnya sesuai dengan narasi di Injil dalam diri Maria.
Mengapa tidak disebutkan Namanya?
Kitab Suci sering kali tidak menyebutkan nama seseorang ketika fokus naratif lebih penting daripada identitas personal. Misalnya Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:25–37), Perempuan Berdosa yang Mengurapi Yesus (Lukas 7:36–50), Janda Miskin yang Memberikan persembahan (Markus 12:41–44), Anak Bungsu dalam Perumpamaan Anak yang Hilang (Lukas 15:11–32), Orang Kaya dan (Lazarus) (Lukas 16:19–31). Perikop-perikop di atas tentu mengidentifikasikan sesuatu. Bahwa ada pencapaian lain dari sekadar menyebutkan namanya. Mungkin dalam beberapa aspek juga berlaku dalam kasus si Anu ini. Namun tentu ada alasan dibalik semuanya ini. dalam kasus 'si Anu', ada beberapa alasan mendalam mengapa namanya disamarkan: Alasan keamanan. Mengapa keamanan, karena memang saat itu Yesus sudah dalam pantauan. Keempat Injil sama sama memberi informasi akan hal tersebut. Mari kita lihat variasi dari empat Injil. Matius 26:3-5 “Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas, dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia. Tetapi mereka berkata: ‘Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat.”. Markus 14:1-2 “Dua hari kemudian adalah hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia; sebab mereka berkata: ‘Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat. Lukas 22:2 “Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat sedang mencari jalan untuk membunuh Yesus, sebab mereka takut kepada orang banyak.”Yohanes 11:57, “Para imam kepala dan orang-orang Farisi telah memerintahkan, bahwa setiap orang yang tahu di mana Dia berada, harus memberitahukannya supaya mereka dapat menangkap-Nya.” Kiranya apa yang ditampilkan oleh Yohanes cukup jelas bahwa alasan merahasiakan identitas orang tersebut agar ia tidak dihukum jika akhirnya bocor bahwa ia menyediakan tempat bagi Yesus dan tidak melapor ke para ahli Taurat. Alasan yang kedua seperti yang dikemukakan oleh beberapa penafsir bahwa indentitas yang dirahasiakan hanya mau menampilkan fokus pada alasan teologis. Sebagai ciri khas Injil adalah bagaimana menunjukkan sikap yang rendah hati. Artinya tidak peduli siapa pun orang itu, tetapi apa yang telah dilakukan oleh orang tersebut. Atau juga seperti yang dikatakan oleh Keener bahwa ini juga mau menunjukkan kemahakuasaan Tuhan dalam mengatur segalanya yang akan terus berjalan walaupun peran manusia tidak tampak di dalamnya (Keener, 2009). Yang jelas, sosok si anu ini adalah orang yang punya rumah. Dia yang telah bertanggung jawab menyediakan tempat dan segala yang dibutuhkan Yesus dalam perjamuan malam itu. Rumahnya menjadi tempat institusi Perjamuan Kudus, dan menjadi lokasi pengajaran terakhir. Tanpa tempat ini, peristiwa besar tersebut bisa saja tidak memiliki wadah yang aman. Kita mengandaikan bahwa yg dikisahkan dalam Injil (Sinoptik) adalah orang yang sama. Yang jelas, orang itu orang yang berani. Karena ia pasti tahu bahwa para pengusaha Yerusalem (dalam hal ini ahli taurat, tua-tua dan orang Farisi) memandang Yesus sebagai orang sesat, pemberontak namun ia menerima-Nya. Selain itu pastilah dia orang dermawan. Ia menyediakan tempat dengan ruang yang paling besar untuk Yesus. Dia pun barang kali membeli anak domba dan mengurus penyembelihannya supaya para tamunya tinggal santap saja. Sebagai utusan Yesus hanya menyediakan roti tak beragi, anggur dan mungkin sayrur pahit (Leks, 2003). Terlepas dari semua itu, siapa pun orang itu, ia sungguh berjasa dalam sejarah keselamatan.
Mari Memetik Makna
Sosok 'si Anu' adalah simbol bagi banyak orang Kristen yang hari ini bekerja dalam pelayanan di balik layar. Mereka tidak dikenal, tidak dicatat sejarah, tetapi tanpa mereka, banyak aspek pelayanan tidak akan berjalan. Dalam era digital, keberanian untuk taat dalam diam menjadi semakin langka, dan 'si Anu' bisa menjadi ikon spiritual bagi mereka yang tetap setia tanpa sorotan. Dalam kehidupan bergereja maupun pelayanan, kita dipanggil bukan hanya untuk terlihat, tetapi untuk tersedia. Ketaatan dan kesediaan seperti yang ditunjukkan oleh 'si Anu' adalah teladan nyata dari spiritualitas yang murni. Dalam kehidupan sekarang juga, banyak orang mulai berlomba untuk menjadi yang terbesar. Banyak hal yang dikorbankan untuk mencapai segala sesuatu sekalipun itu tindakan tidak terpuji. Orang -orang hidup dalam doktrin bahwa yang menonjol adalah lebih baik. Padahal sejatinya ini bukan tentang jabatan fungsional semata, tetap tentang tindakan kasih. Jadi bukan tentang siapa yang melakukan tetapi tentang apa yang dilakukan. Sosok 'si Anu' dalam Matius 26:18 (anomim dalam Markus, Lukas dan Yohanes) mengajarkan bahwa dalam rencana Allah, tidak ada peran yang terlalu kecil. Dengan tidak disebutkan namanya, ia menjadi simbol bagi siapa saja yang rela melayani tanpa pamrih. Ia hadir sebagai saksi kunci dalam karya penebusan Kristus, dan menjadi contoh nyata bahwa Tuhan memakai siapa saja yang taat, tanpa harus dikenal dunia.
Fr. Kristian
Komentar
Posting Komentar