SIAPAKAH KAUM FARISI

SIAPAKAH KAUM FARISI?

            Berbicara mengenai orang Farisi, yang terlintas dalam pikiran kita pasti tidak jauh dari kisah-kisah kontroversialnya dengan Yesus. Dalam Injil (keempat Injil) banyak dijumpai perselisihan Yesus dan orang Farisi. Orang Farisi dengan aturannya yang ketat (bdk Mrk 7:1-8) dan Yesus yang selalu berusaha menjunjung tinggi kemanusiaan dan mengabaikan aturan mereka sering kali menjadi problematik tersendiri. Orang Farisi juga sering mencobai Yesus (Mrk 10:2-12). Dan Yesus sering kali “membalasnya” dengan mengecam mereka, menanggapnya sebagai orang munafik, suka mencari muka dan sebagainya. Bisa dibayangkan bagaimana jeleknya hubungan Yesus dan orang Farisi pada saat itu. Di mana- mana ada percekcokan. Dan dalam Injil, tidak hanya dijumpai satu atau dua kali, melainkan beberapa kali. Akan tetapi, orang Farisi juga tidak diam begitu saja. Mereka tetap berani menentang Yesus. Keberanian mereka untuk menentang Yesus yang notabene dikagumi oleh massa menjadi penguat identitas bahwa mereka pun bukanlah gerombolan sembarangan. Kecaman Yesus pun tidak membuat mereka gentar. Tentunya sangat wajar jika kita bertanya, siapakah mereka? Maka secara sederhana dalam tulisan ini akan dijelaskan tentang orang -orang Farisi tersebut. Tujuan sederhana, untuk mengetahui lebih jauh tentang kaum Farisi tersebut. Sejauh mana mereka berpengaruh dalam masyarakat dan sebagainya. 
             Abad ke 2 M merupakan tahun diperkirakannya munculnya kelompok Farisi ini. Bersama dengan mereka, muncul juga kelompok keagamaan lainnya yakni Saduki dan Esseni. Ada beberapa perbedaan paham antara kelompok tersebut. Misalnya cara mereka memandang Taurat. Selain itu masih ada dijumpai perbedaan lainnya. Diantaranya adalah kepercayaan terhadap adanya kebangkitan, adanya malaikat -malaikat dan sebagainya. Di mana kaum Saduki tidak percaya akan hal tersebut. Kaum Saduki justru dikenal sebagai kelompok yang sangat konservatif. Begitu pun dengan kaum Esseni. Dalam tradisi dikatakan bahwa kaum Esseni lebih memilih menyingkir ke Qumran saking konservatinya. Kaum Farisi juga tidak hanya menerima tradisi tertulis, tetapi juga tradisi lisan. Lagi-lagi berbeda dengan kaum Saduki. Sebaliknya kaum Kaum Farisi yang terbuka dengan situasi zaman. Mereka menafsirkan Taurat sesuai keadaan atau situasi. Hal tersebut bermaksud bahwa Allah akan sungguh dan tetap ada sepanjang zaman. Perbedaan selanjutnya adalah Kaum Saduki lebih cenderung mau bekerja sama dengan penjajah yakni Romawi. Sedangkan Kaum Farisi tidak mencampuri urusan tersebut, atau mereka tidak mau bekerja sama dengan mereka, bahkan lebih mungkin untuk melawannya.
            Kata Farisi sendiri berasal dari bahasa Ibrani “Perushim” yang berarti “orang-orang yang terpisah” atau “orang-orang yang memisahkan diri”. Diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, akan dijumpai “Pharisaioi” (bahasa Yunani) yang kemudian menjadi “Farisi” dalam bahasa Indonesia. Namun pertanyaannya adalah memisahkan diri dari siapa? Mari kita cermati. Ternyata kelompok Farisi ini memisahkan diri dari orang -orang yang tidak bersih secara religius. Atau dari mereka (orang-orang) yang tidak mengikuti dan taat pada agama Yahudi. Hal tersebut membuat mereka begitu berpengaruh di antara kelompok -kelompok Yudaisme lainnya, karena orang memandang bahwa hidup keagamaan mereka lebih baik. Selain itu, mereka juga begitu populer, karena kelompok Farisi juga tidak terikat dengan Bait Allah di Yerusalem maka mereka bisa berinteraksi dengan masyarakat secara luas sehingga pengaruh terhadap masyarakat menjadi lebih luas. Walaupun pengaruh tersebut tidak sama kuatnya di setiap tempat. Bahwa ternyata kaum Farisi di pedalaman Galilea tidak begitu berpengaruh. Dalam sinagoga -sinagogalah pengaruh orang Farisi semakin (cukup) dirasakan. Status sinagoga sebagai tempat perkumpulan orang -orang dengan berbagai kepentingan (agora ) dimanfaatkan oleh orang Farisi dengan leluasa memberi bimbingan kepada rakyat. Dengan demikian popularitas mereka semakin tersiar. Sehingga dalam beberapa situasi ‘gerombolan’ mereka sangat dihormati. 
            Pada dasarnya, harapan hidup mereka ialah agar peraturan ritual yang sebelumnya hanya untuk para imam (kaum Lewi) di Bait Allah, diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun sebenarnya orang Farisi kebanyakan dari golongan awam, kalaupun ada dari kalangan imam pastilah iman tersebut dari kelas menengah. Akan tetapi hidup sehari-hari orang Farisi terus menerus berjuang mengembangkan dan menyebarkan kesucian Bait Allah. Sehingga dalam situasi tertentu peranan Bait Allah dalam keagamaan Yahudi seakan diperkecil meskipun pusatnya tetap diakui. Mungkin itulah yang membedakan mereka dengan misalnya Guru Kebenaran yang justru mengungsi ke padang gurun, atau yang justru menolak ibadat Bait Allah dan lebih menanggap keanggotaan dalam kelompok merekalah sebagai satu-satunya jalan sampai kepada Allah. Sebagaimana diketahui bahwa kaum Farisi merupakan gerakan dari awan dan imam (imam menengah) bisa dikatakan bahwa gerakan ini dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan Yudaisme. Juga dikatakan bahwa orang Farisi juga tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh kelompok Saduki yang telah terpengaruh oleh budaya hellenisme, yang tampak dalam usaha mereka dalam membangun sistem keagamaan yang jauh lebih tuntutan-tuntutan Bait Allah. 
           Menurut beberapa sumber kalangan kaum Farisi di zaman perjanjian Baru terbagi atas dua aliran. Aliran ini masing-masing berasal dari ahli kitab yang bernama Hillel dan Syammai. Mazhab atau paham Syammai dikenal lebih konservatif dalam hal penafsiran maupun penerapan Taurat dan tradisi . Berbeda dengan paham Hillel yang lebih progresif. Meskipun demikian pembedaan ini tidak terlalu dirasakan atau dipersoalkan. Karena pada kenyataannya mereka tetap tinggal atau hidup dalam batas Kaum Farisi. Bahkan dalam Matius 23: 2 ketenaran mereka atau kewibawaan mereka dalam problem agama tetap dikenal atau diakui.
                 Meskipun begitu berpengaruh di masyarakat, ada sesuatu yang unik dari kaum Farisi. Ternyata dengan eksistensi mereka tidak membuat mereka terjun ke bidang politik secara langsung. Meskipun bisa dipastikan bahwa mereka tidak akan setuju bahwa umat Allah dikuasai oleh penjajah atau bangsa asing. Mereka tetap setia hidup dan berurusan dengan keagamaan. Meskipun demikian, kaum Farisi tetap menjadi pejuang nasional yang kuat. Semuanya nyata bahwa akhirnya sesudah tahun 70 M identitas Yahudi diselamatkan oleh kaum Farisi dan bukan kalangan imam atau kaum Saduki.
               Berdasarkan tradisi, untuk bisa bergabung dengan kelompok seorang anggota baru (calon) harus melalui sebuah proses. Proses tersebut ialah pendidikan yang berat. Selama lima sampai enam tahun mereka (calon anggota baru) akan dibina. Yang dipelajari dalam masa tersebut adalah mempelajari dan memahami hukum Taurat. Selain itu, para calon juga akan mempelajari pekerjaan -pekerjaan untuk dapat menjamin atau untuk mencari nafkah. Seperti yang menjadi tradisi bahwa Paulus menyuruh untuk menenun kain dari bulu unta. Dengan adanya syarat -syarat ternyata sangat berpengaruh terhadap jumlah anggota mereka yang hanya 6000 orang saja. 

                Dalam perjanjian Baru, kaum Farisi selalu dicap jelek, terutama oleh pengikut Yesus. Kebiasaan mereka selalu dikecam oleh Yesus. Begitu banyak kisah dalam Injil yang menampilkan kisah Yesus dan kaum Farisi . Oleh Yesus sendiri, orang Farisi disebut sebagai orang-orang yang munafik, dan suka mencari muka. Mereka dikecam Yesus sebagai pemimpin yang membebani rakyatnya. Hal ini bisa dilihat dalam Yohanes 10:1-21 bahwa Yesus mengecam mereka. Meskipun demikian orang Farisi juga tetap mengklaim diri sebagai keturunan Abraham. Yang merasa bahwa mereka sungguh terberkati. Akan tetapi dalam masa selanjutnya (setelah kenaikan Yesus ke Surga) ternyata Kaum Farisi membela orang Kristen (bdk Kis 5:34, 23:9) Perlu diingat juga bahwa Paulus adalah seorang Farisi. Dan bahkan dari sebelum masuk Kristen, Paulus sudah dikenal sebagai seorang yang pribadi yang serius dan menjalankan keagamaannya dengan baik. Bahwa pada masa itu, kaum Farisi seakan menjadi teladan. Mereka sungguh menjadi “ikon” keyahudian. Mereka yang selalu memperjuangkan kebenaran dalam hidup lewat tindakan taat dan setia pada Taurat.  
          Itulah secara singkat pengenalan untuk menjawab pertanyaan tersebut siapakah orang Farisi? Tentu jika kita menggali lebih dalam tentang tema tersebut kita akan menjumpai penjelasan yang lebih kaya, akan tetapi secara garis besar itulah orang Farisi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS KRITIK REDAKSI;PENGAKUAN PETRUS,Dari Kaisarea menjadi Batu Karang

Sosok “Si Anu” dalam Matius 26:18

MENGENAL SOSOK “Si Anu” dalam MATIUS 26:18: PERAN TERSEMBUNYI DALAM SEJARAH KESELAMATAN