St Agustinus Hippo


 St. Augustinus Dari Hippo

Augustinus dilahirkan (mungkin lebih bagus memakai kata lahir pada)pada tahun 354 di Tagaste, sebuah kota kecil dekat Kartago yang letaknya di dekat kota Tunis. Ayahnya seorang penganut agama Romawi Kuno, ibunya (Monika) seorang wanita Kristen yang saleh. Ibu yang penuh semangat dan dihormati sebagai orang kudus itu mempunyai pengaruh besar pada anaknya dan mendidiknya dalam iman Kristiani. Siapa yang (yang gk usah ) sangka masa muda Augustinus diisi dengan berbagai macam kesenangan duniawi yang disebut sebagai ”kebejatan nafsu daging” atau ”kegilaan nafsu biarahi yang liar”. Augustinus mempunyai pengalaman sewaktu menjadi mahasiswa, ia hidup bersama di luar nikah dengan seorang wanita. Ia memperoleh seorang putera bernama adeodatus. (Ini nama org, maka harus pke hruf kapital huruf pertama)
Augustinus telah menerima garam, sebagai tanda bahwa ia telah diterima dalam katekumenat. Ia tetap terpesona oleh tokoh Yesus Kristus. Augustinus mengatakan bahwa ia senantiasa mencintai Yesus namun, telah menjauhkan diri makin lama makin jauh dari iman Gereja serta kehidupan Gereja, seperti yang dialami banyak orang muda zaman sekarang.
Augustinus juga mempunyai saudara laki-laki, (mungkin bisa ditambhkan bernama) Navigius dan seorang saudara perempuan yang namanya tidak diketahui. Ia menjadi janda dan kepala sebuah biara untuk wanita. Sebagai anak muda yang amat cerdas, Augustinus mendapat pendidikan yang baik, mula-mula di kota kelahirannya, kemudian di Madaura dan sejak tahun 370 ia belajar retorika di Carthago, ibu kota Afrika Romawi. Augustinus menguasai bahasa latin dengan sempurna tetapi tidak dengan bahasa Yunani dan Punisia.
Di Carthago, untuk pertama kali Augustinus membaca Hortensius, karya Cicero yang kemudian hilang. Peristiwa itu menandai permulaan jalan menuju pertobatan baginya.
Cicero itu membangkitkan cinta akan kebijaksanaan dalam hatinya, seperti akan ditulisnya dalam Confessiones, ketika menjadi Uskup, ”Buku itu benar-benar mengubah perasaan hatiku”, sehingga ”segala harapan yang sia-sia tiba-tiba kehilangan artinya bagiku dan aku mendambakan kebijaksanaan kekal dengan kerinduan hati yang amat besar”.
(Sebaiknya ada pengantar untuk masuk ke pemikirannya)
Keselarasan Iman Dan Rasio
Dua dimensi ini, iman dan rasio, semestinya tidak dipisahkan satu sama lain atau menjadi pertentangan tetapi, seharusnya selalu berjalan bersama. Seperti ditulis oleh Augustinus sendiri tak lama sesudah pertobatannya, iman dan rasio adalah ”dua kekuatan yang menuntun kita kepada pengetahuan”. Crede ut intelligas (harus dicetak miring karena kata kata asung) (saya percaya supaya mengerti), kepercayaan membuka jalan untuk masuk melalui gerbang kebenaran tetapi juga, dan secara tak terpisahkan intellige ut credas (saya mengerti supaya percaya), selidikilah kebenaran untuk menemukan Allah dan untuk percaya.
Dari pernyataan Augustinus tentang keselarasan dan rasio ini mengungkapkan secara konkret, langsung dan mendalam sintesis masalah ini, yang oleh Gereja Katolik dipandang sebagai pengungkapan perjalanan Gereja itu sendiri.
Keselarasan antara iman dan rasio mengandaikan bahwa pertama-tama Allah tidak jauh: dari rasio dan hidup kita. Ia dekat dengan semua manusia, dekat dengan hati dan rasio, asal saja kita mau sungguh-sungguh menyadarinya. Augustinus menyadari dengan sangat mendalam bahwa Allah begitu dekat dengan manusia. Kehadiran-Nya dalam kehidupan manusia bersifat mesterius sekaligus mendalam, namun dapat ditemukan dalam lubuk hati kita sendiri. Hal ini sesuai dengan ungkapan terkenal dalam Confessiones, di mana Augustinus memuji Allah dengan berkata bahwa manusia diciptakan untuk-Nya dan hati mereka tidak akan menemukan ketenangan sejati sebelum beristirahat dalam Dia. Menjauh dari Allah berarti juga menjauh dari diri sendiri. Augustinus mengakui bahwa Allah lebih dalam dari kedalaman batinnya dan lebih tinggi dari segala pencapaian intelektualnya. Sebelum bertobat, Augustinus merasa bahwa meskipun Allah selalu hadir ia justru menjauh dari dirinya sendiri, bahkan tidak mampu menemukan dirinya sendiri apalagi menemukan Allah.
Karena Augustinus telah mengalami sendiri perjalanan intelektual dan spiritual ini, ia telah berhasil mengungkapkannya dalam karya-karyanya dengan begitu langsung, dalam serta bijaksana, serta mengakui di dua tempat termasyhur lain dari Confessiones bahwa manusia adalah ”suatu teka-teki besar” dan ”jurang besar”, teka-teki dan jurang yang hanya diterangi dan diselamatkan oleh Kristus. Manusia yang jauh dari Allah adalah jauh dari dirinya sendiri dan ia tidak mampu menemukan kembali dirinya selain dengan menemukan Allah. Dengan demikian ia sekaligus menemukan dirinya, diri yang sebenarnya, jati dirinya yang sejati.
Teori Iluminasi, Konsep Kebenaran Dan Hubungan Antara Iman Dan Akal
Agustinus meyakini bahwa rasio manusia memerlukan cahaya Ilahi agar dapat memahami kebenaran sejati. Agustinus membandingkan iluminasi Allah dengan cahaya matahari yang memungkinkan manusia melihat dunia sekitarnya. Agustinus berpendapat, akal manusia tidak mampu menemukan kebenaran mutlak secara mandiri, melainkan hanya dengan iluminasi ilahi manusia dapat mencapai pemahaman yang benar.
Agustinus merumuskan hubungan iman dan rasio dengan dua prinsip yaitu, crede ut intelligas (saya percaya supaya mengerti) dan intellige ut credas (saya mengerti supaya percaya). Iman adalah langkah awal menuju pemahaman, manusia harus menerima kebenaran ilahi terlebih dahulu agar dapat mengerti dengan benar. Rasio juga memiliki peran dalam mendukung iman, manusia dipanggil untuk menyelidiki dan memahami ajaran iman secara lebih mendalam. Dari prinsip ini Augustinus menunjukkan bahwa iman dan rasio bukanlah sesuatu yang bertentangan melainkan, saling melengkapi dalam pencarian kebenaran.
Konsep Kebenaran Sebagai Allah Sendiri
”Aku telah menemukan kebenaran dan kebenaran itu adalah Engkau, ya Tuhan”. Agustinus mengajarkan bahwa kebenaran tidak hanya berupa ide atau prinsip abstrak tetapi, berakar pada keberadaan Allah sendiri. Agustinus menegaskan bahwa semua kebenaran bersumber dari Allah dan bahwa pencarian kebenaran sejati pada akhirnya akan mengarah kepada-Nya. Agustinus percaya bahwa pencarian kebenaran bukan sekadar aktivitas rasional tetapi, juga perjalanan spiritual. Manusia diciptakan dengan hasrat untuk mengenal kebenaran dan karena itu, pencarian akan kebenaran sejati seharusnya membawa manusia kepada Tuhan.
Augustinus membandingkan pencarian kebenaran dengan perjalanan seorang peziarah yang melintasi dunia ini untuk menemukan asal-usulnya yang sejati. Dalam filsafatnya, Augustinus mengkritik mereka yang mencari kebenaran dalam hal-hal duniawi seperti materialisme dan hedonisme karena, hal tersebut memberikan kebenaran yang bersifat sementara dan terbatas. Sebaliknya, kebenaran yang sejati dan tak berubah hanya dapat ditemukan dalam Tuhan yang kekal.
Augustinus memperkenalkan konsep iluminasi ilahi (Divine Illumination) yakni gagasan bahwa Allah menerangi akal budi manusia sehingga ia dapat mengenali kebenaran sejati. Tanpa anugerah dan bimbingan Allah, manusia akan tetap berada dalam kegelapan intelektual dan spiritual. Dengan demikian, menurut Augustinus mengetahui kebenaran bukan hanya persoalan logika dan argumen tetapi, juga membutuhkan rahmat ilahi yang membimbing manusia menuju pemahaman yang benar.
Kesimpulan
Pemikiran Santo Agustinus mengenai hubungan antara iman dan rasio menunjukkan bahwa keduanya bukanlah sesuatu yang bertentangan melainkan, saling melengkapi dalam pencarian kebenaran sejati. Iman menjadi dasar bagi akal budi untuk memahami kebenaran sementara rasio berperan dalam memperdalam pemahaman iman.
Agustinus menegaskan bahwa kebenaran sejati berakar pada Allah sendiri. Manusia tidak dapat menemukan kebenaran mutlak hanya dengan akalnya sendiri, tetapi membutuhkan iluminasi ilahi yaitu penerangan dari Allah yang memungkinkan manusia memahami kebenaran dengan benar. Oleh karena itu, pencarian kebenaran bukan sekadar usaha rasional melainkan juga perjalanan spiritual yang membawa manusia semakin dekat kepada Tuhan. Pengenalan akan Allah bukan hanya intelektual tetapi pengalaman batin yang mendalam.
Ajaran Augustinus memberikan landasan bagi pemahaman bahwa iman dan rasio menjadi dua kekuatan yang mengarahkan manusia pada pengetahuan dan kebijaksanaan sejati. Pencarian kebenaran yang sejati pada akhirnya akan mengarah kepada Tuhan, karena Dialah sumber segala kebenaran dan kebahagiaan manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS KRITIK REDAKSI;PENGAKUAN PETRUS,Dari Kaisarea menjadi Batu Karang

Sosok “Si Anu” dalam Matius 26:18

MENGENAL SOSOK “Si Anu” dalam MATIUS 26:18: PERAN TERSEMBUNYI DALAM SEJARAH KESELAMATAN