TERANG DUNIA sebagai Identitas Para Murid
“Terang dunia” sebagai Identitas Para Murid
Salah satu yang khas dengan Injil Matius adalah tentang khotbah di bukit. Khotbah di bukit ini dapat dijumpai dalam pasal 5-7. Dikatakan khotbah di bukit, karena saat itu Yesus memang naik ke sebuah bukit untuk mengajar orang banyak (bdk Mat 5:1). Yang diajarkan Yesus dalam khotbah tersebut memuat banyak hal. Terutama hal-hal yang hendak dilakukan untuk mencapai hal-hal baik berupa semacam himbauan untuk berjaga-jaga (bdk Mat 7:15-23), bagaimana harus berdoa (bdk Mat 6:5-15) dan lainnya. Dan banyak orang yang mendengarnya begitu kagum dan takjub (bdk Mat 7:28-19). Dan salah satu tema khotbah Yesus yang menarik adalah tentang istilah “kamu adalah terang dunia”(bdk Matius 5: 14-16). Banyak orang yang menafsirkan bahwa itu adalah sebuah ajakan dari Yesus. Tentu itu tidak salah, namun apakah hanya sebatas itu? Dalam tulisanlah ini akan ditampilkan secara sederhana arti yang lebih jauh tentang kata-kata Yesus tersebut.
Kalau dicermati dengan baik kata-kata Yesus tersebut, kita akan menyadari bahwa kalimat tersebut bukanlah suatu ajakan. Dikatakan bahwa “kamu adalah terang dunia”(bdk Mat 5:14). Sangat jelas bahwa ini bukan sebuah perintah untuk menjadi terang dunia, untuk menjadi cahaya bagi yang berada dalam kegelapan, tetapi ini adalah sebuah formasi identitas atau pembentukan komunitas (para murid) dalam arti penegasan identitas mereka. Matius ingin menolong jemaat (para murid) untuk menegaskan identitas dan gaya hidup mereka sesuai dengan ajaran Yesus. Sebagaimana yang dikatakannya oleh Stott, bahwa khotbah di bukit berbicara tentang bagaimana seharusnya kehidupan umat Allah. Sehingga semakin jelas bahwa perikop Matius 5:14-16 itu menjelaskan tentang identitas murid. Banyak ahli yang berpendapat bahwa perikop tersebut mau menjelaskan mengenai hubungan orang Kristen dan dunia, atau fungsi orang Kristen bagi masyarakat di sekitarnya. Dan memang jika dicermati lebih dalam memang kedua metafora (garam pada ayat sebelumnya, 13) dan terang dunia mengkomunikasikan ide yang sama bahwa murid kini menjadi pewarta perjanjian baru yang abadi yang sedang dilaksanakan oleh Yesus.
“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas bukit tidak dapat disembunyikan" Orang-orang juga tidak menyalakan pelita dan meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian p dan ia menerangi semua yang ada di dalam rumah” (Matius 5:14-16). Ayat ini menunjukkan bahwa para murid (kini) memiliki tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab tersebut adalah bahwa harapan Yesus ada di pundak mereka, yaitu agar terang mereka bercahaya bagi banyak orang supaya melihat perbuatan yang baik dan memuliakan Bapa di surga. Kepada mereka (para murid) diberi kekuatan oleh Allah. Dan ketika terang mereka tidak kelihatan (berada di bawah kaki dian) maka sama saja mereka menyembunyikan kekuatan Allah dalam diri mereka atau juga menutupi kehadiran Allah di hadapan banyak orang. Ataupun ketika pelita mereka justru diletakkan di bawah gantang. Dalam konteks saat itu, rumah-rumah orang Yahudi pada umumnya memiliki satu kamar saja. Karena itu, pelita pasti ditempatkan lebih tinggi (di atas kaki dian) untuk menerangi seluruh isi ruangan. Dan pelita ini tidak seperti lilin melainkan hanya lampu sederhana mirip mangkok dan diisi dengan minyak Zaitun. Dengan demikian seharusnya para murid perlu memberi cahaya dalam pewartaan kabar gembira dalam diri orang lain. Para murid digambarkan sebagai murid pembawa terang karena tugas mereka memang untuk meneruskan terang ilahi yang diterima dari Yesus. Ini pun sedikit mengherankan, bahwa dalam injil lain, Yesus menyebut diri sebagai terang dunia, namun dalam kesempatan ini murid juga disebut sebagai terang. Hal tersebut terjadi karena menurut Matius, Yesus dan Gereja adalah kesatuan yang tidak dipisahkan, sama seperti Yerusalem tidak terpisahkan dari gunung. Maka, ucapan Yesus ini adalah sebuah persatuan antara murid-Nya, yang jika mereka bersama, atau tinggal dalam Yesus mereka akan menjadi cahaya. Seperti yang dilukiskan oleh Yesaya “Hai Kamu keturunan Yakub, mari kita berjalan dalam terang Tuhan”. Karena memang Israel dipilih oleh Allah “untuk menjadi terang bangsa-bangsa” (bdk Yes 42:6; 49:6). Atau yang dilukiskan oleh Paulus bahwa pengikut Yesus juga adalah terang di dalam Tuhan (bdk Efesus 5:8). Para murid dikatakan sebagai terang, karena mengikuti Yesus yang adalah terang. Sehingga mereka harus membawa terang di dunia yang gelap dan bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang (bdk Fil 2:15). Ayat 14 dan 15 juga menunjukkan skenario yang sangat indah, yang kembali menekankan identitas dan misi para murid. Skenario pertama, berkaitan dengan kota di atas bukit. Banyak ahli berpendapat bahwa kata bukit yang dikatakan Yesus merujuk pada Yerusalem berdasarkan Yesaya 2:2-5. Namun apakah para murid mengetahui hal tersebut? Belum tentu. Yesus bisa saja menggunakan istilah tempat yang bisa diketahui oleh para murid, tetapi fokus utama ayat 14 tersebut adalah murid-murid yang tidak dapat disembunyikan. Sama seperti kota di atas gunung yang tidak dapat disembunyikan, maka para murid Yesus pun demikian dalam hal membawa terang yang harus kelihatan. Maka sangat jelas ayat 14 dan 15 itu menunjukkan identitas murid sebagai pembawa terang.
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Matius 5:16). Ayat ini merupakan kesimpulan dari ayat 14 dan 15. Ayat 16 ini lebih pada misi atau tindakan konkret para murid. Ayat 15 menampilkan bahwa pelita harus diletakkan di bawah kaki dian untuk menerangi seluruh rumah, maka ayat 16 secara eksplisit mengatakan bahwa para murid harus menunjukkan cahaya mereka untuk orang lain. Para murid yang punya identitas pembawa terang, harus bercahaya di sekitarnya. Dengan demikian orang -orang akan memuliakan Allah. Mengapa orang akan memuliakan Allah ketika melihat perbuatan baik? Perbuatan baik mereka dihasilkan oleh terang dan hidup yang berasal dari Allah. Itu bukan berasal dari diri mereka sendiri, karena yang melihat perbuatan mereka tidak akan memuliakan mereka, tetapi memuliakan Allah di surga. Maka tujuan misi para murid tersebut semakin jelas. Berbuat baik (membawa terang) agar orang lain dapat melihatnya sebagai kebenaran hidup menurut Taurat dan Khotbah di bukit. Maka secara sederhana inilah misi murid Yesus, yaitu perbuatan baik . Lebih pentingnya bukan misi sendiri melihat Bapa di surga tetap dimuliakan bukan hanya murid Yesus tetapi orang disekitarnya.
Daftar Pustaka
D. Martyn Lloyd-Jones, Studies in the Sermon on the Mount, vol.1,2 ( Grand Rapids: Wm.B Eerdmans Publishing Company, 1959), 24
David M. Stanley,New Testament Reading Guide, The Gospel of St. Matthew, (The liturgical Press, Collegeville, Minnesota, 1981) 52-53
Jeon, Akyob dan Tiran, Yanti, Membaca Kembali Metafora Terang dunia dalam Matius 5:14-16, (Jurnal sekolah Tinggi Teologi Pelita Dunia) Vol 9 no 1, Juli 2023) 1-19
John R. W. Stott, The message of the Sermon on the Mount (Matthew 5-7): Christian counter culture The Bible speaks today (Downers Grove:Intervarsity Press, 1985) 18.
Leks, Stefan, Tafsir Injil Matius, (Penerbit Kanisius, Yogyakarta 2003)134-135
Riyadi, Eko Pr, Matius (PT Kanisius, Yogyakarta, 2011)
Wilkins, The Gospel of Matthew, ( France,) 177-215
Komentar
Posting Komentar