Yesus Sebagai Musa Baru dalam Kisah Penggandaan Roti dan Pemberian Roti Manna
Yesus Sebagai Musa Baru dalam Kisah Penggandaan Roti dan Pemberian Roti Manna
Pendahuluan
Salah satu gelar Yesus adalah Musa yang baru. Secara sederhana dipahami melalui peran dalam membawa keselamatan. Musa membawa keluar (menyelamatkan) orang Israel keluar dari tempat perbudakan Mesir. Melalui perjalanan yang panjang bangsa Israel akhirnya bisa menikmati tanah terjadi sebagai bagian yang dijanjikan Allah kepada Abraham (bdk Kej 12:7). Demikian juga Yesus lewat sengsara wafat dan kebangkitan-Nya, manusia bisa selamat. Manusia yang dahulu hidup di dalam dosa, terpisah dari Allah, akhirnya bisa bersatu kembali dalam persekutuan dengan Allah.
Kisah penggandaan roti yang tercatat dalam Injil Matius (bdk 14:13-21), Markus (bdk 6:35-44), Lukas (bdk 9:12-17), dan Yohanes (bdk 6:1-14), merupakan salah satu mukjizat Yesus yang paling terkenal dan memiliki banyak dimensi teologis. Dalam kisah tersebut Yesus memberi makan ribuan orang dengan hanya lima roti dan dua ikan, sebuah tindakan yang begitu menggugah banyak pengikut-Nya untuk melihat Dia sebagai Mesias yang dijanjikan. Namun, tidak hanya dalam aspek mukjizat atau pemenuhan kebutuhan materi, peristiwa ini juga membawa makna yang dalam dalam konteks spiritual dan teologis. Dan makna tersebut harus digali lebih mendalam. Salah satu cara untuk memahami makna kisah tersebut adalah dengan melihat Yesus sebagai Musa Baru. Sebagai diketahui bahwa Musa adalah tokoh sentral dalam sejarah umat perjanjian; bangsa Israel. Terutama dalam sejarah dan kisah mereka dalam pembebasan bangsa mereka dari perbudakan Mesir dan membawa mereka menuju tanah terjanji. Seperti Yesus yang memberi makan lima ribu orang, Musa juga memberi makan bangsa Israel dengan roti manna di padang gurun (bdk Keluaran 16), Yesus dan Musa sama- sama memberi kebutuhan materi dalam penggandaan roti-Nya juga memberi makan umat Israel (Musa). Akan tetapi sekali lagi peristiwa ini (Peristiwa Yesus) harus dipahami bahwa ini mengarah pada pemenuhan janji Allah yang lebih besar.
Dalam esai ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana Yesus dapat dilihat sebagai Musa Baru dalam konteks kisah penggandaan roti, membandingkan peristiwa-peristiwa tersebut, dan menyelami makna teologis yang lebih dalam. Selain itu juga akan membahas latar belakang sejarah dan teologis, simbolisme yang terkandung dalam kedua peristiwa tersebut.
Latar Belakang Historis dan Teologis
Keluaran pasal 2 merupakan catatan awal tentang Musa. Musa adalah tokoh utama dalam Perjanjian Lama yang dipilih oleh Allah untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan memimpin mereka menuju tanah yang dijanjikan. Meskipun telah dipilih oleh Allah (Bdk Keluaran 2:23-23; 3:1-22; 4:1-17) tetapi Musa tidak serta-merta mengalami penerimaan yang baik dari umat Israel (bdk Keluaran 2:1-15) apalagi dari Firaun (bdk Keluaran 5). Akan tetapi akhirnya bangsa Israel bisa dibawah keluar dari Mesir oleh Musa. Dalam perjalanan melintasi padang gurun bangsa Israel dan Musa pun tidak tanpa persoalan. Begitu banyak hal yang terjadi antara Allah, Musa, dan bangsa Israel. Maka Allah lewat Musa menunjukkan kasih-Nya lewat Musa lewat berbagai mukjizat seperti terbelahnya laut Merah (bdk Kel 14: 15-31). Selain itu, salah satu mukjizat terbesar yang terkait dengan Musa adalah pemberian manna di padang gurun, roti surgawi yang diberikan Allah kepada bangsa Israel selama mereka berjalan di padang gurun selama 40 tahun. Manna ini dianggap sebagai sumber makanan yang cukup untuk kelangsungan hidup umat Israel, dan peristiwa ini sering dipahami sebagai bukti penyertaan dan pemeliharaan Allah.
Dalam Injil, Yesus sering digambarkan sebagai penggenapan nubuat-nubuat Perjanjian Lama. Dalam Injil Matius, ketika Yesus ditolak di Nazaret (bdk Mat 13) Yesus menyeberang danau untuk mengasingkan diri (bdk Mat 14:13-21) tetapi ketika Dia mendarat, orang banyak telah menunggu-Nya (bdk Matius 14:14). Maka disinilah terjadi kisah penggandaan roti. Dalam pengadaan roti tersebut, Yesus tidak hanya memberikan makanan fisik, tetapi juga menunjukkan bahwa Dia adalah Sumber kehidupan yang lebih besar dari sekadar roti. Hal ini mengingatkan kepada roti manna yang diberikan kepada bangsa Israel, yang pada akhirnya hanya dapat memenuhi kebutuhan fisik sementara, namun Yesus menawarkan roti kehidupan yang mengarah pada kehidupan kekal.
Kisah Penggandaan Roti dan Hubungannya dengan Musa
Kisah penggandaan roti dapat ditemukan dalam semua empat Injil, dengan beberapa variasi dalam detailnya. Dalam Injil Yohanes (6:1-14), yang lebih menekankan aspek teologis dari mukjizat ini, Yesus mengajukan pertanyaan kepada Filipus, "Di manakah kita dapat membeli roti untuk orang-orang ini?" Dalam kebingungannya Filipus menjawab dengan, menyatakan bahwa bahkan dengan uang yang cukup besar, mereka tidak akan dapat membeli cukup roti untuk memberi makan begitu banyak orang (bdk Yoh 6:5,7). Namun, dengan lima roti dan dua ikan yang ditemukan di seorang anak. Yesus memberkati makanan itu dan membagikannya kepada orang banyak, sehingga semuanya makan sampai kenyang dan masih ada sisa. Kisah penggandaan roti ini tidak hanya menunjukkan kuasa Yesus untuk menyediakan kebutuhan fisik umat-Nya, tetapi juga menggugah pemahaman spiritual tentang bagaimana Dia adalah "Roti Hidup" yang memberi kehidupan kekal (Yohanes 6:35). Kisah ini mengingatkan kita pada peristiwa manna yang diberikan kepada bangsa Israel selama mereka berada di padang gurun (bdk Keluaran 16). Dalam hal ini, Yesus dapat dipandang sebagai Musa Baru yang membawa berkat yang lebih besar, bukan hanya untuk bangsa Israel, tetapi untuk seluruh umat manusia. Sebagai Musa yang memberi makan umat Israel di padang gurun, Yesus juga membawa pembebasan yang lebih besar. Musa membebaskan umat Israel dari perbudakan fisik di Mesir, sementara Yesus datang untuk membebaskan umat manusia dari perbudakan dosa dan kematian. Keduanya, baik Musa maupun Yesus, menjadi perantara yang digunakan oleh Allah untuk memenuhi kebutuhan rohani umat-Nya.
Simbol Penggandaan Roti dan Manna
Kisah penggandaan roti oleh Yesus sangat kaya akan simbolisme yang berkaitan dengan kehidupan rohani. Dalam Alkitab roti seringkali digunakan sebagai simbol dari kebutuhan dasar manusia, dan Yesus menggunakan simbol ini untuk menunjukkan bahwa Dia adalah penyedia segala kebutuhan umat-Nya, baik secara fisik maupun rohani (Bdk Yohanes 6:35-40). Dalam hal ini, penggandaan roti tidak hanya berarti memberi makan tubuh manusia, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana Yesus adalah Roti Hidup yang memberi hidup kekal. Dalam Injil Yohanes 6:48-51, Yesus secara jelas mengatakan, "Akulah roti hidup. Para nenek moyangmu makan manna di padang gurun dan mereka mati. Tetapi roti yang turun dari surga adalah roti yang seseorang dapat makan dan tidak mati. Akulah roti hidup yang turun dari surga. Jika seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya." Dalam pengertian ini, Yesus menghubungkan roti fisik yang diberikan dalam mukjizat penggandaan roti dengan roti spiritual yang memberikan hidup kekal. Manna, yang dulunya diberikan kepada bangsa Israel, hanyalah gambaran atau bayangan dari pemberian yang lebih besar yang akan datang melalui Yesus. Dengan kata lain, Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah sumber kehidupan sejati, lebih daripada sekadar pemenuhan kebutuhan fisik seperti yang terjadi pada zaman Musa. Yesus, sebagai Musa Baru, datang untuk memberikan pemberian yang lebih tinggi yaitu keselamatan dan hidup yang kekal melalui hubungan dengan-Nya. Penggandaan roti, dengan demikian, menjadi lambang dari kebaikan Allah yang lebih besar yang datang melalui Yesus.
Yesus Sebagai Musa Baru: Pemenuhan Janji Allah
Kisah penggandaan roti juga dapat dilihat sebagai penggenapan janji Allah dalam Perjanjian Lama. Allah telah menjanjikan untuk memberikan pemeliharaan dan pertolongan kepada umat-Nya, dan Yesus, sebagai Musa Baru, datang untuk menyelesaikan pekerjaan yang dimulai oleh Musa. Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dan memberi mereka hukum Allah; Yesus datang untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dan memberikan hidup yang kekal. Selain itu, Musa juga diingat sebagai pembawa hukum (Torah), yang menjadi dasar hidup umat Israel Namun, Yesus datang untuk membawa suatu perjanjian baru, yang mengatasi keterbatasan hukum lama. Dalam hal ini, Yesus menggenapi hukum dan memberi makna yang lebih mendalam pada semua yang telah dilakukan oleh Musa. Dengan memberi makan ribuan orang dengan roti, Yesus tidak hanya meneguhkan peran-Nya sebagai penyedia kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai sumber kehidupan rohani yang lebih tinggi, yakni keselamatan yang diberikan kepada umat manusia melalui iman kepada-Nya.
Penutup
Melalui kisah penggandaan roti, kita dapat melihat Yesus bukan hanya sebagai seorang pembuat mujizat, tetapi juga sebagai Musa Baru yang datang untuk membawa pemenuhan janji Allah yang lebih besar. Sama seperti Musa yang memberi makan bangsa Israel di padang gurun, Yesus datang untuk memberi makan umat-Nya, tidak hanya dengan roti fisik tetapi dengan roti kehidupan yang memberikan hidup kekal. Kisah ini mengingatkan kita bahwa Yesus adalah penyedia yang sejati, yang memenuhi kebutuhan rohani dan materi umat-Nya, dan bahwa melalui-Nya kita dapat mengalami keselamatan dan hidup yang kekal.
Daftar Pustaka
Groenen, C OFM, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama,(PT Kanisius, Yogyakarta, 1990), 100
Joihin, Jonly, Yesus adalah Roti Kehidupan (Jurnal Amanat Agung, Vol 6(2) 2010, 215-244
Kingsbury, Den Jack, The New Moses, (Journal of Biblical Literature, Vol 115 (2)) 256-358, 1996
Lawalata, Mozes dan Yulinda Mirta, Mukjizat yang menghubungkan dengan Pernyataan Yesus tentang Dirinya bahwa Dia benar-benar Tuhan, (Ranah Research: Journal of Multidisciplinary Research and Development 6 (6), 2933-2941, 2024
Warwer, Fredrik, Yesus Memberi Makan Lima Ribu Orang: Kajian Model Pembelajaran Berbasis Makalah (Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen,2023) Bol 3(2) 72-80
Widasana, Fajar Agustian, Skripsi: “Mukjizat Musa dalam Perjanjian Lama dan Mujizat Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru” (Jakarta, UIN SYARIF HIDAYATULLH, 2023)
Komentar
Posting Komentar